RSS

Rabu, 04 Juni 2014

Tanah Cepat Laku Berkat Doa Anak Yatim (Testimoni : Ibu Rubi di Kulon Progo Yogyakarta)


Panti Asuhan Miftakhul Jannah
Bantul Yogyakar




Tanah Cepat Laku
Berkat Doa Anak Yatim
(Testimoni : Ibu Rubi di Kulon Progo Yogyakarta)

Muslim itu saudara muslim lain, ia tidak boleh menzhaliminya dan tidak pula membiarkannya terzhalimi. Siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah SWT memenuhi kebutuhannya. Siapa yang melapangkan suatu kesulitan dari seorang muslim, Allah melapangkan satu dari sekian kesulitan pada hari kiamat. Dan siapa yang menutupi aib seorang muslim, Allah SWT menutupi aibnya pada hari kiamat.
( HR.Bukhari, Kitab Al- Mazhalim )
Dari hadist tersebut diatas jelas kita sebagai orang muslim tidak boleh berbuat zalim kepada orang lain dalam bentuk apapun. Bahkan ketika orang lain terzalimi, agama menganjurkan untuk kita menolongnya sesuai dengan kemampuan kita tentunya. Dan diperjelas lagi bahwa Allah SWT akan menutup aib orang -orang yang berusaha untuk menutup aib orang lain di akhirat nanti. Pemahaman yang lebih sederhana lagi bahwa kita hidup di dunia ini sebenarnya disuruh untuk berbuat kebaikan terhadap sesama makhluk Tuhan, kalau kita belum mampu untuk berbuat kebajikan ya kita belajar dan berusaha semampu kita . Tetapi jangan kita kemudian malah mengisi hidup kita dengan hal negatif  berbuat zalim kapada orang lain.
Dari kisah Abu Dzar Al-Ghifari dari Rasulullah sebagaimana ia mendapat wahyu dari Allah bahwa Allah berfirman: Wahai hambaku, sesungguhya aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku telah menetapkan haramnya (kezaliman itu) di antara kalian, maka janganlah kalian saling berlaku zalim.(Imam Muslim 24 : Arba'in an-Nawawi)
 Kalau diri kita berkarya membawa kemanfaatan juga  untuk orang lain itu bagus perlu dijaga agar bisa  ajeg karena akan mendatangkan ridho Allah bagi  pelakunya. Maka hindarilah zalim kepada orang lain. Dalam hadits lain Muhammad bersabda : Takutlah kalian akan kezhaliman karena kezhaliman adalah kegelapan pada hari Kiamat. ( Imam Muslim dari Jabir bin Abdullah)

Siapa yang memberikan contoh baik dalam Islam, maka ia mendapat pahalanya dan pahala orang yang mengerjakannya setelah tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka. Dan, siapa yang memberikan contoh buruk dalam Islam, maka ia mendapat dosanya dan dosa orang yang mengerjakannya setelahnya tanpa mengurangi sedikitpun dosa mereka ( Muslim, Kitab Al-IIm)
Ketika kita melakukan kebaikan kita mendapat pahala bahkan mendapatkan pahala orang yang mengikuti perbuatan kita, Subhanalloh,  tinggal mana yang akan kita lakukan akankah kita akan zalim atau melakukan perbuatan baik dan mengajak mereka untuk berbuat baik pula.
JUAL TANAH LANCAR
Ibu Rubi dari Kulon Progo Yogyakarta Alhmadullilah kesulitannya menjual tanahnya, karena kebutuhan yang sangat mendesak pada saat itu harus menutup kebutuhan hidupnya yang pada saat itu harus segera dilunasi , tanahnya yang sudah ditawar –tawarkan kesana kemari tapi lama sekali belum ada yang berminat bahkan melihat pun orang tidak senang apalagi menawarnya, akhirnya berkat kesabarannya datang ke panti Asuhan Miftakhul Jannah , dan berdoa bersama –sama dengan anak yatim. Alhamdulilllah karena niatnya yang baik itu akhirnya Allah mengabulkan hajatnya, tanahnya segera laku Alhamdulillah masalahnya bisa teratasi.
PEMBANGUNAN PANTI
 Alhamdulillah  kami pengurus berkat bantuan Bapak Ibu masih dapat mencukupi kebutuhan anak –anak dan melengkapi  sarana dan prasarana Panti Asuhan. Insya Allah akan melanjutkan pembangunan dapur dan ruang makan seta beberapa kamar mandi untuk tamu dermawan. Bagi yang ingin membantu dapat menghubungi Ustad Rohmad ( Pengurus Harian) di nomor 081328416439   yang berminat membantu silahkan kami menyediakan nomor rekening atas nama Panti Asuhan Miftakhul Jannah, Rekening BNI Trikora Yogyakarta : 0191609830 , Rekening BRI Kusumanegara Yogyakarta : 0986-01-002416-50-4 . Bagi yang berminat Buku Amaliyah edisi ke 3, sms saja di 082138697600 atau   085292460005 Insya Allah kami berikan cuma-cuma selama masih ada.


Mudah Mendapat Pekerjaan Setelah Rajin Sodaqoh (Testimoni : Bp. Sampujianti dan Bp. Bariyanto dari Yogyakarta ).


Panti Asuhan Miftakhul Jannah
Bantul Yogyakarta



Mudah Mendapat Pekerjaan
 Setelah  Rajin Sodaqoh

       (Testimoni : Bp. Sampujianti dan Bp. Bariyanto dari Yogyakarta  ).

Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memegang kedua pundakku dan bersabda: “Hiduplah di dunia ini seakan-akan engkau orang asing atau orang yang sedang lewat.” Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata: Jika engkau memasuki waktu sore, maka janganlah menunggu pagi; dan jika engkau memasuki waktu pagi, janganlah menunggu waktu sore; ambillah kesempatan dari masa sehatmu untuk masa sakitmu dan dari masa hidupmu untuk matimu.” Riwayat Bukhari.
Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kami berobat?” Beliau menjawab, “Ya, wahai hamba-hamba Allah. Sesungguhnya Allah meletakkan penyakit dan diletakkan pula penyembuhannya, kecuali satu penyakit yaitu penyakit ketuaan (pikun)”. (HR. Ashabussunnah)
Pernah mendengar bahwa sehat itu mahal harganya, artinya ketika kita  kondisi badan sehat  harus benar- benar menjaga tubuh kita dari hal –hal yang dapat membuat  sakit sehingga membuat lemahnya tubuh kita dan kemungkinan banyak biaya untuk berobat  memulihkan tubuh. Jadi tubuh kita harus dijaga dari makanan yang kurang sehat  bagi tubuh dan pikiran yang bisa membuat stres harus diimbangi dengan rasa syukur dan pasrah kepada Allah SWT.
Ikut  memperhatikan saudara - saudara kita , tetangga dan teman –teman yang sedang menderita sakit sangat dianjurkan oleh agama dengan memperhatikan dapat mempercepat proses kesembuhan bagi yang sedang sakit sekaligus sebagai pengingat kita sendiri untuk selalu menjaga kesehatan tubuh kita. Rasa empati kita terhadap yang sedang sakit dapat membuat rasa semangat yang sakit untuk cepat sembuh selain doa yang kita panjatkan kepada Allah SWT.
Berobat termasuk ikhtiar yang dianjurkan agama, banyak orang yang sakit dan berobat kemana- mana tetapi belum sembuh juga itu salah satu bentuk cobaan dari Allah SWT jadi ya harus bersabar Insya Allah kesabaran kita dalam menerima ujian berupa penyakit  akan mendatangkan kesembuhan pada penyakit kita dan pahala kesabaran tentunya.
Apabila seorang hamba sakit sedang dia biasa melakukan sesuatu kebaikan maka Allah berfirman kepada malaikat: “Catatlah bagi hambaKu pahala seperti yang biasa ia lakukan ketika sehat.” (HR. Abu Hanifah).
Sedangkan keputus asaan menurut para ahli akan membuat diri kita makin merasa menderita yang menyebabkan lama datangnya kesembuhan dan kurangnya rasa bersyukur kepada Allah. Jadi teruslah berobat baik ke dokter maupun alternatif  sambil terus berdoa kepada Allah berharap Allah SWT akan menyembuhkan penyakit yang kita derita.
Allah menurunkan penyakit dan menurunkan pula obatnya, diketahui oleh yang mengetahui dan tidak akan diketahui oleh orang yang tidak mengerti. (HR. Bukhari dan Muslim)
PEKERJAAN MUDAH DIDAPAT SETELAH SODAQOH
Alhamdulillah saudara kita Bapak Sampujianti dan Bapak Bariyanto dari Yogyakarta sejak lama mencari pekerjaan yang sesuai akhirnya sekarang diterima sekaligus di pabrik Susu terbesar di Yogyakarta setelah lama mencari pekerjaan yang cocok sesuai bidangnya.
PEMBANGUNAN PANTI
 Alhamdulillah  kami saat ini sedang melanjutkan pembangunan dapur dan ruang makan serta kamar mandi . Bagi yang ingin membantu dapat menghubungi Ustad Rohmad ( Pengurus Harian) di nomor 081328416439   yang berminat membantu silahkan kami menyediakan nomor rekening atas nama Panti Asuhan Miftakhul Jannah, Rekening BNI Trikora Yogyakarta : 0191609830 , Rekening BRI Kusumanegara Yogyakarta : 0986-01-002416-50-4 . Bagi yang berminat Buku Amaliyah edisi ke 3, sms saja di 082138697600 atau   085292460005 Insya Allah kami berikan cuma-cuma selama masih ada.



Prestasi Meningkat Diterima di SMA Unggulan Setelah Didoakan Anak Yatim (Testimoni : Mbak Salma puteri dari Bp. Agus di Semarang )


Panti Asuhan Miftakhul Jannah
Bantul Yogyakarta




Prestasi Meningkat Diterima di SMA Unggulan
Setelah Didoakan Anak Yatim

(Testimoni : Mbak Salma puteri dari Bp. Agus di Semarang  )

Dan sesungguhnya Kami benar –benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; agar Kami menyatakan (baik- buruknya) hal ihwalmu.(QS.Muhammad: 31)

 Yang menjadikan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dialah (Allah) yang Mahakuat lagi Maha Pengampun. (QS.Al Mulk :2)
Banyak orang mengalami ujian dalam hidup ini , kegagalan misalnya: kegagalan dalam usaha yang sudah jaya tiba- tiba keliru dalam mengambil  keputusan, kegagalan dalam mendapatkan pasangan hidup , kegagalan dalam mendapatkan momongan dan masih banyak lagi hal –hal yang membuat manusia kecewa karenanya. Kegagalan yang menimpa manusia sebenarnya ya merupakan ujian hidup kita yang menimpa diri kita karena memang atas ijin Nya tidak dapat dihindari .
Putus asa kadang terjadi pada hamba Allah yang kurang menyadari   bahwa kegagalan memang merupakan ujian bagi dirinya dan sudah merupakan ketentuan dari Allah SWT. Ujian yang kita anggap sangat berat dari usaha yang kita lakukan karena kegagalan yang terjadi ada rahasia Allah disitu yang harus kita temukan sebagai jawaban untuk diri kita agar dapat terus bisa bertahan dalam mempertahankan hidup kita terus untuk tetap sabar dan memulai lagi berusaha atau mencari jalan lain. Bagi kepala rumah tangga yang berkewajiban mencari nafkah bagi keluarg kadang gagal memenuhi kebutuhannya yang  cukup besar mulai dari kebutuhan pendidikan, kesehatan dan kebutuhan sehari –hari keluarganya ,tidak perlu berputus asa karena Allah sudah menyiapkan rejekinya tinggal kita berikhtiar jangan merasa gagal dalam hidup tetapi tetap semangat untuk terus bekerja. Ada nasehat bijak ahli hikmah : “Jika tekadmu kuat, maka jalanmu akan terbuka” Idza shadaqal azmu wadhahas sabilu.
Allah SWT jelas tidak mungkin menyia-nyiakan hamba Nya dan sudah menyiapkan jalan hidup sejak kita diciptakan. Tinggal bagaimana kita tetap membangkitkan semangat kita sehingga dikala kita menemui kegagalan kita masih tetap dapat bangkit tetap menemukan jalan kita kembali, saat putus asa dalam kegagalan pikirkan kembali bahwa ada tanggung jawab kita, pada keluarga dan yang lebih besar lagi tanggung jawab kepada Allah SWT  tetap temukan jalan  kembali.

PRESTASI MENINGKAT
Alhamdulillah Salma dari Semarang puteri dari Bapak Agus setelah didoakan oleh anak yatim dan beberapa kali berkunjung ke Panti Asuhan Miftakhul Jannah. Setelah minta didoakan anak yatim agar dapat masuk SMA unggulan di Semarang tanpa disangka –sangka dapat masuk padahal sebelumnya  pesimis diterima di sekolah tersebut dan adiknya yang menderita sakit juga Alhamdulilah dapat berangsur –angsur pulih. Insya Allah mudahan –mudahan bisa sembuh seperti sediakala dan prestasinyadi sekolah  bisa meningkat , ya kita di panti hanya bisa mendoakan saja sebagai rasa berterima kasih kepada Bapak dan Ibu Dermawan, fajar menerangkan.
PEMBANGUNAN PANTI
 Alhamdulillah  kami saat ini sedang melanjutkan pembangunan dapur dan ruang makan serta kamar mandi . Bagi yang ingin membantu dapat menghubungi Ustad Rohmad ( Pengurus Harian) di nomor 081328416439   yang berminat membantu silahkan kami menyediakan nomor rekening atas nama Panti Asuhan Miftakhul Jannah, Rekening BNI Trikora Yogyakarta : 0191609830 , Rekening BRI Kusumanegara Yogyakarta : 0986-01-002416-50-4 . Bagi yang berminat Buku Amaliyah edisi ke 3, sms saja di 082138697600 atau   085292460005 Insya Allah kami berikan cuma-cuma selama masih ada.


Selasa, 25 Maret 2014

Apakah Allah swt Tidak Menyayangiku???



Apakah Allah swt Tidak Menyayangiku???
Mungkin, pertanyaan semacam ini pernah atau bahkan mungkin sering merasuk dalam diri seorang muslim. Dia melihat orang-orang yang akhlak dan ilmu agamanya jauh lebih rendah darinya, atau bahkan mungkin rusak, namun kenapa Allah swt senantiasa memberikan orang tersebut harta yang melimpah? Kenapa rizki orang-orang yang jauh dari Allah swt jauh lebih baik dari dirinya? Kenapa dirinya yang senantiasa taat dan selalu berusaha untuk berjalan lurus di jalan-Nya tapi tidak pernah mendapatka rizki yang lebih baik? Apakah Allah swt tidak menyayangi aku dan orang-orang seperti aku yang selalu berusaha untuk taat kepada-Nya?
Untuk  menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, coba sejenak mari kita perhatikan cerita singkat dan sederhana berikut:
Si TAAT dan si JAHAT
Dahula kala…bahkan sampai saat ini …
Ada seorang ayah yang memiliki dua anak …
Anak yang satu bernama TAAT …
an yang kedua bernama JAHAT …
Si TAAT selalu menuruti semua perintah dan larangan ayahnya, selalu membantu ayah dan Ibunya, mengerti akan tugas-tugasnyanya, tidak pernah membuat ayah dan ibunya marah, selalu bersikap hormat, penyantun, lembut dalam bertutur kata …
Sedangkan si JAHAT hampir selalu melawan perintah dan larangan ayah dan ibunya, malas bekerja dan membantu orang tua, suka membuat orangtuanya jengkel, arogan, ucapannya suka kasar dan kotor …
Suatu ketika …
Baik si TAAT maupun si JAHAT sama-sama mengajukan permintaan…
Kebetulan permintaan keduanya sama …
Keduanya sama-sama meminta dibelikan mobil-mobilan baru yang harganya sangat mahal …
Apakah yang terjadi…?
Apakah sang ayah hanya akan mengabulkan permintaan si TAAT karena telah bersikap baik kemudian menolak permintaan si JAHAT karena selalu bersikap buruk …?
Ternyata…jawabannya tidaklah demikian …
Sang ayah menuruti permintaan kedua anaknya untuk membelikan mobil-mobilan …
Bahkan, ayah masih menuruti kemauan si JAHAT yang masih minta di tambah dengan satu buah pistol-pistolan, sementara si TAAT sudah sangat berterimakasih dan bersyukur karena sudah dibelikan mobil-mobilan baru dengan harga yang sangat mahal itu …
HIKMAH:
Apakah dengan demikian berarti sang ayah benar-benar menyayangi si JAHAT dan si TAAT dengan seimbang? Atau justru si ayah lebih menyayangi si JAHAT karena telah membelikan mainan tambahan?
Jawabnya adalah : “BELUM TENTU”
Disinilah berperan yang disebut dengan sifat “Penyayang” dan “Pemberi”.
Sang ayah membelikan mobil-mobilan kepada si TAAT karena ia memang sangat menyayangi anaknya yang selalu patuh itu …
Dan ia membelikan mobil-mobilan kepada si JAHAT karena sang ayah masih memiliki sifat pemberi selain sifat penyayang tadi …
Adapun sang ayah yang membelikan mainan tambahan kepada si JAHAT berupa pistol-pistolan, tidak lain dan tidak bukan, hanyalah sebagi ujian bagi anaknya agar ia berfikir bahwa meskipun ia terlampau nakal, sang ayah tidak akan membeda-bedakannya, sang ayah tidak akan memblokir permintaan dan pemberiannya… dan berharap agar ia bisa berubah dikemudian hari untuk menjadi anak yang baik seperti si TAAT …
Begitu juga dengan Allah swt, Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dia akan selalu memberi, namun belum tentu bahwa ia akan selalu menyayangi. Adapun setiap pemberiannya adalah nikmat bagi kita semua. Sedangkan nikmat adalah ujian agar kita bersyukur kepadanya, bukan malah kufur atau ingkar kepadanya. Karena, barangsiapa kufur atas nikmat Allah, maka azab-Nya yang pedih telah menanti.
Dikutip dari www.lingkarcahaya.com
















            Menata Hati

Betapa indahnya sekiranya kita memiliki qolbu yang senantiasa tertata, terpelihara, terawat dengan sebaik-baiknya. Ibarat taman bunga yang pemiliknya mampu merawatnya dengan penuh kesabaran dan ketelatenan. Alur-alur penanamannya tertata rapih. Pengelompokan jenis dan warna bunganya berkombinasi secara artistik. Yang ditanam hanya tanaman bunga yang memiliki warna-warni yang indah atau bahkan yang menyemerbakan keharuman yang menyegarkan.
Rerumputan liar yang tumbuh dibawahnya senantiasa disiangi. Parasit ataupun hama yang akan merusak batang dan daunnya dimusnahkan. Tak lupa setiap hari disiraminya dengan merata, dengan air yang bersih. Tak akan dibiarkan ada dahan yang patah atau ranting yang mengering.
Walhasil, tanahnya senantiasa gembur, tanaman bunga pun tumbuh dengan subur. Dedaunannya sehat menghijau. Dan, subhanallah, bila pagi tiba manakala sang matahari naik sepenggalah, dan saat titik-titik embun yang bergelayutan di ujung dedaunan menagkap kilatan cahayanya, bunga-bunga itu, dengan aneka warnanya, mekar merekah. Wewangian harumnya semerbak ke seantero taman, tak hanya tercium oleh pemiliknya, tetapi juga oleh siapapun yang kebetulan berlalu dekat taman. Sungguh, alangkah indah dan mengesankan.
Begitu pun qolbu yang senantiasa tertata, terpelihara, serta terawat dengan sebaik-baiknya. Pemiliknya akan senantiasa merasakan lapang, tenteram, tenang, sejuk, dan indahnya hidup di dunia ini. Semua ini akan tersemburat pula dalam setiap gerak-geriknya, perilakunya, tutur katanya, sunggingan senyumnya, tatapan matanya, riak air mukanya, bahkan diamnya sekalipun.
Orang yang hatinya tertata dengan baik tak pernah merasa resah gelisah, tak pernah bermuram durja, tak pernah gundah gulana. Kemana pun pergi dan dimana pun berada, ia senantiasa mampu mengendalikan hatinya. Dirinya senantiasa berada dalam kondisi damai dan mendamaikan, tenang dan menenangkan, tenteram dan menenteramkan. Hatinya bagai embun yang menggelayut di dedaunan di pagi hari, jernih, bersinar, sejuk, dan menyegarkan. Hatinya tertambat bukan kepada barang-barang yang fana, melainkan selalu ingat dan merindukan Zat yang Maha Memberi Ketenteraman, Allah Azza wa Jalla.
Ia yakin dengan keyakinan yang amat sangat bahwa hanya dengan mengingat dan merindukan Allah, hanya dengan menyebut-nyebut namanya setiap saat, meyakini dan mengamalkan ayat-ayat-Nya, maka hatinya menjadi tenteram. Tantangan apapun dihadapinya, seberat apapun, diterimanya dengan ikhlas. Dihadapinya dengan sunggingan senyum dan lapang dada. Baginya tak ada masalah sebab yang menjadi masalah hanyalah caranya yang salah dalam menghadapi masalah.
Adalah kebalikannya dengan orang yang berhati semrawut dan kusut masai. Ia bagaikan kamar mandi yang kumuh dan tidak terpelihara. Lantainya penuh dengan kotoran. Lubang WC-nya masih belepotan sisa kotoran. Dindingnya kotor dan kusam. Gayungnya bocor, kotor, dan berlendir. Pintunya tak berselot. Krannya susah diputar dan air pun sulit untuk mengalir. Tak ada gantungan. Baunya membuat setiap orang yang menghampirinya menutup hidung. Sudah pasti setiap orang enggan memasukinya. Kalaupun ada yang sudi memasukinya, pastilah karena tak ada pilihan lain dan dalam keadaan yang sangat terdesak. Itu pun seraya menutup hidung dan menghindarkan pandangan sebisa-bisanya.
Begitu pun keadaannya dengan orang yang berhati kusam. Ia senantiasa tampak resah dan gelisah. Hatinya dikotori dengan buruk sangka, dendam kesumat, licik, tak mau kompromi, mudah tersinggung, tidak senang melihat orang lain berbahagia, kikir, dan lain-lain penyakit hati yang terus menerus menumpuk, hingga sulit untuk dihilangkan.
Sungguh, orang yang berhati busuk seperti itu akan mendapatkan kerugian yang berlipat-lipat. Tidak saja hatinya yang selalu gelisah, namun juga orang lain yang melihatnya pun akan merasa jijik dan tidak akan menaruh hormat sedikit pun jua. Ia akan dicibir dan dilecehkan orang. Ia akan tidak disukai, sehingga sangat mungkin akan tersisih dari pergaulan. Terlepas siapa orangnya. Adakah ia orang berilmu, berharta banyak, pejabat atau siapapun; kalau berhati busuk, niscaya akan mendapat celaan dari masyarakat yang mengenalnya. Derajatnya pun mungkin akan sama atau, bahkan, lebih hina dari pada apa yang dikeluarkan dari perutnya.
Bagi orang yang demikian, selain derajat kemuliannya, akan jatuh di hadapan manusia, juga di hadapan Allah. Ini dikarenakan hari-harinya selalu diwarnai dengan aneka perbuatan yang mengundang dosa. Allah tidak akan pernah berlaku aniaya terhadap makhluk-makhluknya. Sesungguhnyalah apa yang didapatkan seseorang itu, tidak bisa tidak, merupakan buah dari apa yang diusahakannya.
وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَى
وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى
ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاء الْأَوْفَى
“Dan bahwasannya manusia tidak akan memperoleh (sesuatu), selain dari apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasannya kelak akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian akan diberikan balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna.” (QS. An Najm {53} : 39-41).
Kebaikan yang ditunaikan dan kejahatan yang diperbuat seseorang pastilah akan kembali kepada pelakunya. Jika berbuat kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala sesuai dengan takaran yang telah dijanjikan-Nya. Sebaliknya, jika berbuat kejahatan, niscaya ia akan mendapatkan balasan siksa sesuai dengan kadar kejahatan yang dilakukannya. Sedangkan kebaikan dan kejahatan tidaklah bisa berhimpun dalam satu kesatuan.
Orang yang hatinya tertata rapih adalah orang yang telah berhasil merintis jalan ke arah kebaikan. Ia tidak akan tergoyahkan dengan aneka rayuan dunia yang tampak menggiurkan. Ia akan melangkah pada jalan yang lurus. Dititinya tahapan kebaikan itu hingga mencapai titik puncak. Sementara itu ia akan berusaha sekuat-kuatnya untuk berusaha sekuat-kuatnya untuk memelihara dirinya dari sikap riya, ujub, dan perilaku rendah lainnya. Oleh karenanya, surga sebaik-baiknya tempat kembali, tentulah telah disediakan bagi kepulangannya ke yaumil akhir kelak. Bahkan ketika hidup di dunia yang singkat ini pun ia akan menikmati buah dari segala amal baiknya.
Dengan demikian, sungguh betapa beruntungnya orang yang senantiasa bersungguh-sungguh menata hatinya karena berarti ia telah menabung aneka kebaikan yang akan segera dipetik hasilnya dunia akhirat. Sebaliknya alangkan malangnya orang yang selama hidupnya lalai dan membiarkan hatinya kusut masai dan kotor. Karena, jangankan akhirat kelak, bahkan ketika hidup di dunia pun nyaris tidak akan pernah merasakan nikmatnya hidup tenteram, nyaman, dan lapang.